SUARASELATAN.com, Takalar – Menganyam songkok guru (kopiah khas Sulawesi Selatan) membutuhkan ketelitian ekstra. Setiap lekuk anyaman benang menuntut fokus serta mata yang jeli.
Bagi sebagian warga binaan di Lapas Kelas IIB Takalar, gangguan penglihatan kerap menjadi penghambat utama saat mereka berupaya tetap produktif dan mengasah keterampilan di balik jeruji besi.
Memahami kendala tersebut, Lapas Kelas IIB Takalar membagikan bantuan kacamata kepada 50 warga binaan pada Sabtu 3 Oktober 2026.
Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pemenuhan hak dasar serta kelancaran proses pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh Kepala Lapas Takalar, Andi Gunawan, didampingi oleh Kepala Seksi Registrasi, Gugu Alam, serta jajaran petugas registrasi lainnya.
Menunjang Pembinaan Kerohanian hingga Keterampilan Kerja
Langkah ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan respons atas kebutuhan riil para warga binaan. Banyak warga binaan yang aktif dalam berbagai kegiatan rutin, mulai dari program keagamaan hingga pelatihan kerja mandiri.
“Dengan penglihatan yang lebih baik, mereka dapat mengikuti kegiatan belajar, membaca, menulis, membaca Al-Qur’an, maupun bimbingan kerja dengan lebih nyaman,” ujar Gugu Alam, Kepala Seksi Registrasi Lapas Takalar.
Sementara itu, Kalapas Takalar Andi Gunawan menekankan bahwa pembinaan yang efektif harus didukung oleh fisik yang prima, termasuk kesehatan mata. Penglihatan yang jernih menjadi modal penting agar warga binaan dapat menyerap ilmu dan keterampilan secara maksimal sebagai bekal saat kembali ke masyarakat nanti.
”Kegiatan bimbingan kerja membutuhkan ketelitian tinggi, salah satunya dalam menganyam songkok guru. Kami berharap kacamata ini memberikan manfaat nyata agar mereka tetap produktif, berkarya, dan terus mengasah potensi diri selama berada di sini,” ungkap Andi Gunawan.
Melalui bantuan alat bantu penglihatan ini, Lapas Takalar berkomitmen untuk terus menciptakan lingkungan pembinaan yang humanis dan berfokus pada pemberdayaan kualitas hidup para warga binaan.(*)







