SUARASELATAN.com, Takalar – Kesabaran dan ketelitian menjadi kunci utama bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Takalar dalam meracik kerajinan kearifan lokal, songkok anyam.
Program ekonomi kreatif yang diikuti 13 warga binaan ini dirancang sebagai pembekalan keterampilan teknis sekaligus modal kewirausahaan saat mereka kembali ke tengah masyarakat kelak.
Kepala Subseksi Bimbingan Kerja Lapas Takalar, Rizal, mengungkapkan bahwa proses pembuatan kerajinan tangan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat demi menjaga kualitas bentuk dan kerapian anyaman.
“Pembuatan satu buah songkok anyam membutuhkan waktu sekitar lima hari. Proses ini mengajarkan ketelitian dan kedisiplinan. Hasil karya mereka kini dipasarkan di galeri lapas dan masyarakat umum,” ujar Rizal, Kamis (15/10/2026).
Salah seorang warga binaan, NP, mengaku bersyukur bisa mempelajari keahlian merajut songkok anyam selama menjalani masa pemasyarakatan.
“Meski prosesnya memakan waktu, kami mendapat pengalaman berharga. Keterampilan ini jadi tumpuan saya untuk membuka usaha sendiri saat bebas nanti,” tuturnya.
Sementara itu, Kalapas Kelas IIB Takalar, Andi Gunawan, menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program pembinaan kemandirian yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Diharapkan, hadirnya produk kerajinan berbasis kearifan lokal ini tidak hanya meningkatkan produktivitas warga binaan, tetapi juga mampu mengikis stigma negatif masyarakat melalui karya nyata yang bernilai ekonomi.(*)











