SUARASELATAN.com, Takalar – Enam sekolah dasar (SD) yang tergabung dalam Gugus Belajar III Kabupaten Takalar mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 30, Jumat (18/9/2026).
Kegiatan ini berfokus mendorong sekolah agar tidak hanya mengejar capaian angka atau warna pada Rapor Pendidikan. Sekolah dituntut mampu menganalisis hasil evaluasi, mengidentifikasi akar masalah, serta merumuskan langkah perbaikan secara berkelanjutan.
Sekitar 30 peserta yang terdiri dari guru dan kepala sekolah mengikuti kegiatan tersebut. Masing-masing sekolah mengutus lima guru dan satu kepala sekolah.
Kepala UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang, Dra Siswaty M, mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan oleh sekolah penerima BOS Kinerja berdasarkan capaian kinerja yang baik.
“Ini kegiatan dilaksanakan oleh sekolah penerima BOS Kinerja dengan hasil kinerja terbaik,” kata Siswaty saat ditemui di lokasi kegiatan.
Menurutnya, BOS Kinerja berbeda dengan BOS Reguler. Dukungan tersebut dapat dimanfaatkan sekolah untuk menunjang program peningkatan mutu, termasuk peningkatan kompetensi guru dan tenaga pendidik melalui pelatihan maupun bimbingan teknis.
“Jadi ada bantuan selain BOS Reguler, ada bantuan BOS Kinerja sekolah yang berkinerja baik,” ujarnya.
Bukan Sekadar Rapor Hijau
Siswaty menjelaskan, Rapor Pendidikan menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan capaian kinerja sekolah. Namun, sekolah tidak hanya melihat warna atau kategori yang muncul dalam rapor tersebut.
Menurutnya, perkembangan capaian dari tahun ke tahun juga menjadi bagian penting dalam melihat kinerja sekolah.
“Jadi bukan karena dia hijau semua itu standar, tetapi progresnya dari meningkat. Grafiknya, grafik progresnya,” jelasnya.
Rapor Pendidikan yang dirilis setiap tahun, kata dia, dapat menjadi bahan bagi sekolah untuk melihat kondisi masing-masing serta menentukan aspek yang masih membutuhkan perbaikan.
“Setiap tahun dirilis hasil rapornya. Itu keluar sebagai Rapor Pendidikan,” katanya.
Karena setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda, maka langkah perbaikannya pun tidak dapat disamaratakan.
“Kan beda-beda Rapor Pendidikan,” ujarnya.
“Di mana beda-beda akar masalahnya. Kalaupun kami misalnya di literasi sama-sama menurun, tetapi akar masalahnya sekolah A dengan sekolah B beda, tidak sama,” lanjutnya.
Ia mencontohkan, persoalan literasi di satu sekolah dapat disebabkan teknik pembelajaran, sedangkan di sekolah lainnya bisa berkaitan dengan ketersediaan buku atau sarana pendukung pembelajaran.
Karena itu, hasil Rapor Pendidikan perlu dibaca lebih jauh untuk menemukan akar masalah sebelum sekolah menentukan program perbaikan.
Enam SD Tergabung Gugus Belajar III
Kegiatan penguatan SPMI tersebut dilaksanakan dalam Gugus Belajar III yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar.
Siswaty menyebut terdapat tujuh gugus belajar di Takalar. Khusus Gugus Belajar III, terdapat enam sekolah dasar yang mengikuti rangkaian kegiatan.
Keenam sekolah tersebut yakni UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang, UPT SD Negeri 150 Inpres Tamalalang, UPT SD Negeri 9 Bone-bone, UPT SD Negeri 8 Tamasongo, UPT SD Negeri 24 Takalar II, dan UPT SDN 3 Pattallassang.
“Jadi saya ini Gugus 3. Terdiri dari enam sekolah,” ungkap Siswaty.
Gugus Belajar III terdiri dari lima SD di Kecamatan Pattallassang dan satu SD dari Kecamatan Mappakasunggu.
Sekolah-sekolah tersebut dikelompokkan dalam satu gugus karena sama-sama mendapatkan BOS Kinerja berdasarkan capaian kinerja yang dinilai melalui Rapor Pendidikan.
“Di Takalar ini ada beberapa SD yang dianggap berkinerja baik. Dari sekian ini dikelompokkanlah per gugus,” ujarnya.
Salah satu contoh yang disebut Siswaty adalah UPT SD Negeri 24 Takalar II. Sekolah tersebut disebut memiliki progres kinerja yang baik sehingga memperoleh BOS Kinerja meski sebelumnya menghadapi persoalan fasilitas gedung.
“SD 24 yang kemarin tidak ada gedungnya, tetapi progresnya dia bagus, makanya diberikan BOS Kinerja,” katanya.
Perkuat Pemahaman SPMI
Dalam kegiatan tersebut, materi diberikan oleh instruktur yang telah mengikuti Training of Trainers (TOT) dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP).
Pada kegiatan pertama, H Abdul Muin bertindak sebagai instruktur.
Peserta mendapatkan penguatan pemahaman mengenai Sistem Penjaminan Mutu Internal Satuan Pendidikan, termasuk kembali memahami standar pendidikan yang menjadi dasar dalam pelaksanaan penjaminan mutu.
Siswaty mengatakan terdapat delapan Standar Nasional Pendidikan yang menjadi bagian dari pemahaman peserta dalam kegiatan tersebut.
“Di awal ini kami diberikan dulu pemahaman, penguatan pemahaman kembali tentang Standar Sistem Penjaminan Mutu Internal Pendidikan,” ujarnya.
Penguatan SPMI, kata Siswaty, bukan bertujuan untuk mencari sekolah yang memiliki kekurangan.
Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masing-masing sekolah untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi, capaian, dan kebutuhan mereka.
“Jadi kita yang sadar kembali dari Standar Nasional itu,” tuturnya.
Standar Pendidikan Jadi Dasar Perbaikan
Dalam pemaparannya, H Abdul Muin menjelaskan bahwa pemenuhan standar pendidikan merupakan batas minimal yang harus dicapai satuan pendidikan.
Namun, sekolah diharapkan tidak berhenti ketika telah memenuhi standar minimal tersebut. Program peningkatan mutu tetap perlu diarahkan pada capaian yang lebih baik.
“Sesuai KKM. Iya. Katakanlah begitu, baru sampai di situ. Karena itu kriteria minimal. Jadi kalau sudah mentok sampai di situ capaianta, maka di dalam penyusunan program harus lebih di atasnya lagi,” ujar Abdul Muin.
Ia juga menjelaskan bahwa penjaminan mutu dilaksanakan pada satuan pendidikan, baik jalur pendidikan formal maupun nonformal.
“Penjaminan mutu itu dilaksanakan pada satuan pendidikan baik jalur pendidikan formal maupun nonformal,” katanya.
Berlanjut ke Literasi, Numerasi dan Teknologi
Rangkaian kegiatan Gugus Belajar III tidak berhenti pada penguatan SPMI.
Setelah materi SPMI, kegiatan berikutnya akan membahas penguatan literasi dan numerasi serta penguatan penggunaan teknologi.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan pendampingan untuk melihat penerapan materi yang telah diperoleh peserta di sekolah masing-masing.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bergilir di enam sekolah.
UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang menjadi lokasi pertama pada Jumat (18/9/2026), kemudian dilanjutkan di UPT SD Negeri 150 Inpres Tamalalang pada Sabtu (19/9/2026).
Selanjutnya, kegiatan dilaksanakan di UPT SD Negeri 9 Bone-bone pada Minggu (20/9/2026), kemudian dilanjutkan di UPT SD Negeri 8 Tamasongo, UPT SD Negeri 24 Takalar II, dan UPT SDN 3 Pattallassang.
Adapun kepala sekolah yang hadir yakni Dra Siswaty M, Nurlaelah, S.Pd, Roni Mustakim, S.Pd, Hj Nurlim, S.Pd, Mutmainnah, S.Pd, dan Yuliana, S.Pd.
Untuk materi berikutnya, instruktur yang dijadwalkan adalah H Nurmin dan Ahsan.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah diharapkan semakin mampu menjadikan SPMI sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar kegiatan administratif.
Evaluasi melalui Rapor Pendidikan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata, mulai dari menemukan akar masalah, menyusun program, melaksanakan perbaikan, hingga melakukan evaluasi kembali.
Dengan demikian, pemanfaatan BOS Kinerja tidak hanya mendukung terlaksananya pelatihan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas sekolah dan tenaga pendidik dalam melakukan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.(*)









